Anak dan Uang

Artikel pernah dimuat di NATURA – Jogja

Banyak perdebatan tentang kapan dimulainya seorang anak diperkenalkan pada uang. Pada dasarnya pengetahuan mengenai keuangan  pada anak memang dibutuhkan. Mau tidak mau anak akan bersinggungan dengan uang, baik langsung atau tidak langsung.

Dina anak yang berusia 4 tahun tertawa lepas setelah eyang-nya memberikan uang sebesar Rp 5000 kepadanya. Dengan cepat pula Dina hilang dari hadapan seluruh anggota keluarga, keluar rumah dan “nemplok” di warung depan milik mpok Ninik. Sebungkus makanan kecil berukuran sedang berwarna hijau terang dan sebuah minuman ringan berbotol plastik sudah di tangan.

“Makasih Eyang” Dina berucap girang sambil terus berlari ke belakang menemui bi Inah si pengasuh.

Tidak berapa lama mpok Ninik datang ke rumah menyerahkan uang kembalian sebesar Rp 1500 sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Dina sekarang sudah bisa berbelanja, namun belum mengerti nilai uang. Anak dan uang memang suatu dilema. Sebagian orang mengatakan anak tidak harus cepat dibekali dengan “ilmu” tentang uang, sedangkan yang lain mengatakan hal itu harus diajarkan sejak dini.

Kapan diberikan?
Anak akan bersinggungan langsung atau tidak langsung dengan uang.

Banyak perdebatan tentang kapan dimulainya seorang anak diperkenalkan dengan uang. Ada yang menyebutkan usia sebagai patokan kapan si anak diperkenalkan dengan uang. Ada lagi yang menjadikan tingkatan usia sekolah sebagai tolak ukur. Dan tidak sedikit yang memasrahkan hal tersebut dengan waktu, artinya biarlah nanti si anak akan paham sendiri.

Harus kembali diingat, pengetahuan tentang keuangan sangat penting bagi seseorang termasuk anak-anak. Selain karena memiliki nilai, uang juga memiliki akibat turunan yang pasti harus diketahui. Uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat investasi, alat proteksi dan sebagainya.

Seorang anak sudah harus diperkenalkan dan mendapat pendidikan dasar tentang uang sejak si anak dapat dengan jelas meminta uang kepada orang yang lebih tua, sejak saat itu pula pendidikan tentang uang dapat mulai diberikan kepada mereka. Ini akan beragam pada tiap anak. Bagi yang sering bergaul dengan lingkungannya, pasti pengetahuan tentang uang akan dengan cepat diperoleh dari lingkungan tersebut. Jadi tidak mengherankan seorang anak yang berusia 3 tahun sudah bisa merengek meminta uang Rp 1000 dan menarik tangan ibunya untuk mengikutinya ke warung langganan. Atau seorang anak yang tiap akhir minggu sudah bisa meminta uang ibunya untuk menagih janji naik wahana permainan di mall. Sejak saat itu pengenalan tentang uang sebaiknya diberikan.

Bukan hanya berbelanja
Harus diakui bahwa pembelajaran pertama yang biasanya didapat oleh si anak adalah uang sebagai alat berbelanja atau untuk mereka adalah alat untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Bila sebelumnya tangisan adalah cara mudah untuk mendapatkan sesuatu, sekarang ada pengganti berupa kertas atau koin yang bisa mewujudkan keinginannya. Jadi pengetahuan dasar si anak tentang uang biasanya diawali dengan uang sebagai alat pembelanjaan atau memperoleh sesuatu. Nah di sini mungkin orangtua bisa memulai memberi beberapa pelajaran penting:

  1. Uang sebagai alat tukar

Uang memang sebagai sarana untuk pembelanjaan, namun ada nilai yang terkandung di situ. Nilai tiap uang berbeda dan tiap uang memiliki “kekuasan” sesuai dengan nilai yang tertera. Jadi seorang anak bisa menukar sesuatu yang diinginkannya sesuai dengan nilai yang dikandung oleh uang tersebut. di sinilah dibutuhkan peran orangtua untuk menanamkan tentang pentingnya nilai uang tersebut. Bagaimana sebuah kertas berwarna biru lebih rendah nilainya dari yang berwarna coklat, atau bagaimana sebuah kertas bergambar pahlawan tertentu memiliki kekuasaan lebih daripada yang lainya. Dengan cara ini fungsi dasar uang sebagai alat tukar bisa diperoleh si anak.

  1. Uang sebagai alat pembelanjaan

Fungsi kedua ini mungkin yang paling mudah diajarkan. Berikan sejumlah uang kepada anak, biarkan mereka bertransaksi dan mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dengan demikian mereka tahu bukan sekedar rengekan dan tangisan yang bisa membuat keinginannya terwujud.

  1. Uang sebagai alat investasi

Uang bukan hanya untuk berbelanja saat ini, namun juga untuk masa depan. Nah di sini fungsi uang sebagai alat investasi berperan. Menyisihkan uang untuk hari esok adalah pelajaran pertama. Jangan menghabiskan semua uangnya dan gunakan juga untuk besok adalah cara mudah mengajarkan investasi. Apalagi bila diberikan suatu harapan sederhana bila menyisihkan selama beberapa waktu akan mendapatkan hasil yang lebih besar. Ini memicu mereka untuk berpikir jangka panjang dengan uangnya.

  1. Uang sebagai alat proteksi

Mungkin fungsi keempat ini agak sedikit rumit dipahami sang anak. Bagaimana uang bisa menyelamatkan atau sebagai alat yang melindungi diri mereka. Namun minimal mereka tahu bahwa dengan uang kita bisa membeli atau mendapatkan penyelamat. Misalnya saat harus ke dokter, membayar obat dan sebagainya.

Mau tidak mau anak memang akan bersinggungan dengan uang. Menyiapkan mereka dengan bekal pengetahuan yang cukup tentang fungsi uang menjadi hal mutlak. Selain fungsi, mereka juga sebaiknya diberi tahu bahwa uang bukan diperoleh dengan cara meminta, sekedar mengunjungi bank atau berdiri di depan ATM. Namun harus berusaha untuk memperolehnya, dengan bekerja.

Comments are closed.