3 Cara membuat Boros Jadi Hemat

Hasil gambar untuk boros

Baru F sudah E…

Pola hidup seseorang dibentuk dari kegiatan yang dia terus lakukan sehingga membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang baik tentu akan membentuk pola hidup yang baik pula. Salah satu point penting yang berpengaruh pada pola hidup adalah penggunaan finansial. Penggunaan uang yang asal-asal atau “asal kepingin beli” bisa memberikan dampak yang kurang baik pada keberlangsungan hidup.

Kebiasaan “asal kepingin beli” ini disebut dengan pemborosan. Hidup boros bukan hanya akan berdampak pada keadaan kantong namun tidak baik pula secara psikologis. Pelaku hidup boros menjadi cenderung tidak mudah menerima keadaan dan semua keinginan harus dipenuhi. Mengerikan bukan? Oleh karena itu, sebaiknya mulailah mengubah kebiasaan boros menjadi hemat.

Secara teori perubahan menjadi hidup hemat cukup dengan menekan rasa “ingin” serta pengeluaran untuk membeli. Namun pastinya teori ngga akan semudah praktek kan ya. Oleh karenanya ada 3 tips mudah merubah ke”boros”an jadi hemat.

  • Membeli karena butuh

Pengeluaran memang hasrus dilakukan karena kita ngga akan bisa hidup tanpa melakukan pengeluaran dan pembelian. Namun seperti sudah sering saya utarakan, pengeluaran bila ingin diikuti tidak akan pernah ada kata habis. Sifatnya yang tidak terbatas sangat memungkinkan seseorang bisa menghabiskan penghasilan atau bahkan hartanya untuk sekedar pengeluaran dan pembelian yang ternyata disadari tidak dibutuhkan. Oleh karenanya melakukan pembelian dengan dasar kebutuhan adalah suatu keharusan. Membedakannya dengan keinginan menjadi kunci keberhasilan penghematan. Sebab kebutuhan itu bersifat terbatas sedangkan keinginan tidak terbatas. Mau contoh ?

Membeli satu setel pakaian adalah kebutuhan, sebab ngga akan mungkin kita beraktifitas tanpa pakai baju dan kelengkapannya kan ya. Tapi bila satu stel pakaian tadi diikuti dengan keharusan harus bermerk “A” atau dikeluarkan oleh perancang “B” maka lain lagi ceritanya. Pembelian tadi bukan lagi menjadi kebutuhan tapi keinginan. Apalagi pembelian tadi tidak diikuti dengan pertimbangan yang matang.

  • Membuat anggaran yang realistis

Pemborosan sebenarnya mengindikasikan bahwa kita kurang baik dan tidak disiplin dalam membuat anggaran pengeluaran. Pengeluaran sejatinya harus disesuaikan dengan pemasukan yang ada dan bukan sebaliknya. Banyak dari kita  berusaha untuk menambah pemasukan dan bekerja lebih keras dengan tujuan untuk bisa memenuhi pengeluaran yang terjadi. Itu salah!!! Kita ngga akan bisa memenuhi semua pengeluaran. Oleh karenanya ngga heran orang menjadi boros karena pengeluaran tidak diatur dan dianggarkan dengan baik. Membuat prioritas dalam anggaran tanpa sadar membuat kita lebih hemat. Memisahkan pengeluaran berdasarkan kewajiban, kebutuhan dan akhirnya baru keinginan membuat pengeluaran otomatis menjadi hemat. Sebab tanpa sadar kita membatasi pengeluaran konsumtif kita dengan mendahulukan kewajiban dulu, kemudian kebutuhan dan akhirnya baru keinginan.

  • Memulai kebiasaan murah

Ketika kita bicara hemat, banyak orang berkonotasi bahwa kita akan menjadi pelit. Padahal tidak seperti itu. Bukan berarti memiliki barang harga tinggi selalu berarti boros atau sebaliknya memiliki barang harga rendah berarti hemat. Murah adalah pola hidup untuk selalu mencari harga yang lebih rendah namun mendapatkan nilai atau value yang lebih tinggi. Membeli kendaraan baru mungkin lebih mahal dibandingkan dengan membeli kendaraan bekas. Namun bila perawatan kendaraan bekas tadi membuat Anda mengeluarkan dana lebih rutin tiap bulan, ditambah dengan hilangnya waktu karena harus melakukan service plus biaya pajak yang tidak sesuai dengan nilai manfaatnya (misalnya Anda punya mobil tua yang selalu rusak dan lebih banyak tinggal di bengkel dibandingkan di rumah), maka tindakan membeli mobil bekas di harga lebih rendah bukanlah penghematan. Memiliki baju, gadget atau alat elektronik di harga tinggi di atas rata-rata bisa jadi lebih murah dibandingkan barang yang sama asalkan memang nilai yang didapat lebih tinggi. Seorang teman memiliki kebiasaan unik dalam berbusana. Dia membeli pakaian selalu yang termahal, namun dianggarkan hanya 2x dalam 1 tahun. Dia mengatakan lebih senang membeli baju yang dia tau kualitasnya sehingga bertahan 6 bulan, kemudian beli lagi daripada harus membeli tiap bulan yang ahirnya juga tidak terpakai. Nah bagaimana dengan Anda? Berapa pasang sepatu yang Anda punya? Coba hitung bila dikumpulkan mungkin Anda sudah bisa membeli sepasang sepatu lux di mall ternama. Atau berapa lemari baju yang Anda punya. Bayangkan bila itu semua menjadi uang, mungki Anda sudah memiliki baju dengan merk yang tidak terbayangkan bisa Anda miliki. Jadi gaya hidup murah bukan masalah harga, namun masalah kualitas dan nilai. Jadi jangan heran bila terjadi yang sepertinya mahal menjadi murah dan yang sepertinya murah malah menjadi mahal.

Itulah beberapa cara ampuh untuk mengubah pola hidup boros menjadi hemat.

Ada tambahan? Dengan senang hati saya menunggu tambahan dari Anda semua…

Comments are closed.