Menjadi Kaya yang Sebenarnya

Financial FreedomSemua pasti kenal dengan kata “kaya”. Bahkan semua orang pasti berharap ingin menjadi kaya. Memang kalau ditanya apa definisi kaya jawaban setiap orang pasti berbeda-beda. Belum lagi kalau ada yang mengkajinya dari berbagai macam sudut pandang. Tapi kali ini kita akan coba membahasnya dari sisi keuangan. Apa sebenarnya definisi kaya itu?

Kaya Bukan Penghasilan Tinggi

Banyak yang beranggapan bahwa seseorang disebut kaya bila berpenghasilan tinggi. Padahal kalau Anda membaca media, ada beberapa hal yang unik. Ketika membahas seorang Bill Gates, biasanya media tidak mencantumkan berapa besar penghasilannya. Sebaliknya bila membicarakan seorang Christiano Ronaldo atau seorang Taylor Swift misalnya, maka yang sering dibahas adalah seberapa besar penghasilannya dan bukan kekayaannya.

Kenapa berbeda?

Hal ini karena kaya tidak selalu identik dengan penghasilan besar. Bahkan sangat mungkin penghasilannya kecil tapi bisa kaya, atau yang sering terjadi adalah seseorang berpenghasilan besar tapi tidak kaya alias tetap bisa dibilang miskin. Loh, kok?

Apa Itu Kaya?

Kaya sebenarnya dihitung dari banyaknya asset dan bukan penghasilan. “Tapi kan, uang yang didapat dari pekerjaan kita (penghasilan) juga merupakan asset?” Ya, tidak salah. Namun ketika seseorang hanya memiliki penghasilan saja sebagai asset, maka akan ada waktunya dimana asset penghasilan tadi bisa berhenti atau selesai, sehingga asset penghasilan tadi bisa hilang bila tidak dikembangkan. Ingat kasus Mike Tyson yang saat jayanya dengan hanya tampil tidak sampai 1 jam bisa mendapatkan ratusan juta bahkan milyar? Apakah dia kaya? Ya dia kaya saat itu. Tapi ketika kekayaan dari penghasilan tadi tidak dikelola dengan baik dan sumber itu selesai atau habis, maka hilanglah assetnya termasuk juga kekayaannya. Jadi seorang yang kaya sebenarnya bukan dari penghasilannya yang besar, tapi dari bagaimana dia mengelola penghasilan tadi sehingga menjadi asset. Belum selesai, asset tadi juga harus bisa berkembang untuk menambah lagi kekayaannya menjadi asset-asset lainnya, nah sampai disini asset tadi disebut sebagai asset yang produktif.

Apa saja asset produktif tadi?

Cukup beragam. Sederhananya, bila asset tadi bisa memberi tambahan nilai atau kekayaan kepada harta kita maka itu adalah asset produktif. Misal sebuah ponsel yang Anda gunakan untuk melakukan transaksi jual beli online, maka itu disebut sebagai asset produktif berupa bisnis. Atau sebentuk emas, reksadana, maupun saham sebuah perusahaan, bahkan property yang nilainya ternyata meningkat lebih tinggi dari inflasi sehingga nilai kekayaan Anda naik, maka itu adalah asset produktif. Jadi asset produktif tadi pada dasarnya ada 2 yaitu asset produk keuangan dan bisnis.

Kaya, Miskin dan Pura-pura Kaya

Oke, kita sudah sama-sama tahu apa itu kaya dan bagaimana seseorang bisa disebut kaya. Nah sekarang saya mau cerita sedikit mengenai fenomena unik yang biasa terjadi di masyarakat. Saat saya memberi seminar saya menyebutnya sebagai orang yang kaya, miskin dan pura-pura kaya.

Kita mulai dari yang paling mudah yaitu kaya. Sama seperti yang sudah saya bahas di atas, kaya adalah ketika asset Anda sebagian besar adalah asset produktif atau asset yang bisa membuat Anda menjadi produktif.

Nah, fenomena kedua saya sebut sebagai orang yang miskin. Orang bisa disebut miskin bila dia memiliki asset tapi asset tadi bukan yang produktif, dimana asset tersebut nilainya terus turun dan biaya untuk merawatnya terus meningkat. Katakanlah seperti contoh ponsel di atas, hanya digunakan untuk bermain game atau hal-hal lain yang tidak menambah kekayaan kita. Nilai ponsel tadi terus turun sementara biaya perawatan terus naik karena harus isi pulsa; belum lagi kalau rusak.

Lalu fenomena ketiga. Ini yang menarik. Saya melihat makin banyak yang melakukan ini khususnya di kota-kota besar. Menjadi pura-pura kaya. Pada kasus ini seseorang mungkin memiliki asset juga tapi asset tadi bukan asset produktif. Tapi kenapa tidak disebut miskin? Beda, karena dalam kasus ini orang yang pura-pura kaya adalah mereka yang mendapatkan asset non produktif dengan cara utang. Jadi bisa lebih kacau dari sekedar miskin. Sudah tidak produktif, assetnya pun ternyata bukan milik dirinya sendiri karena masih utang. So, itulah mengapa saya katakan kenapa orang seperti ini adalah orang yang pura-pura kaya atau pura-pura miskin. Terserah, sama saja

Sekarang, dengan penggambaran di atas, berada dimanakah Anda? Miskin? Kaya? Atau pura-pura kaya? Semoga bukan yang terakhir ya…


Note:

Ingin tahu berapa besar kekayaan ideal Anda seharusnya di usia Anda sekarang? Mungkin rumus berikut bisa dipakai sebagai acuan:

 

Kekayaan Bersih
(Total Asset – Total Utang)
= Usia x 10% x Penghasilan Anda 1 tahun

 

*Artikel pernah dimuat di Majalah Intisari

Leave A Response

* Denotes Required Field